Tulis Text Disini

Kamis, 14 Juli 2016

sorry/fanfiction

sorry


Main cast:
Kim Jong In
Oh Sehoon
Song Ahri (OC)
Choi Minhoo
And other
Length: one Shoot
Genre: romance

Author POV:
Seluruh calon mahasiswa berkumpul disebuah gedung auditorium utama untuk mengikuti studium general. Itu hal yang dirasa sangat membosankan bagi mereka semua, apalagi saat rektor Lee Soo Man memberikan ceramah, ah bukan, melainkan penjelasan mengenai seluk beluk kampus ini dan bagaimana cara mengisi kartu rencana study.
“ck...benar-benar membosankan” seorang namja berkulit tan mempoutkan bibirnya. Bosan. Yah...itulah yang dirasakannya “benar, apalagi sekarang baru jam 10.00, masih kurang dua jam lagi” sahut namja disebelahnya. Aigoo, mereka ini sangatlah berbeda, kulitnya. Namja berkulit hitam bernama Kim Jong In duduk bersebelahan dengan namja berkulit putih pucat bernama Oh Sehoon. Yah...mereka sangatlah kontras, kulit hitam nan sexy dan kulit putih pucat nan imut kekeke. Mereka ini bersahabat. Dan tak jarang banyak orang yang sering mentertawakan mereka saat mereka berjalan bersama.
Flash back
“hihihi...lihatlah! mereka sangat kontras”
“geurae, pangeran putih dan pangeran arang hahaha...”
“aigoo...benar-benar mereka ini...” dan celetuk-celetukkan lain dari orang yang sangat menyebalkan bagi Jong In
“sudahlah, jangan kau dengarkan mereka Jong In” sahut Sehoon “kau tak perlu cemberut begitu” Jong In mengangguk.
Flashback end
***
Rektor Lee masih menjelaskan bagaimana mengisi kartu rencana studi, namun para calon mahasiswa masih belum memahaminya sehingga ia mengambil contoh data kemahasiswaan milik Ahri.
“begini, kalian ketiklah nama website kami lalu masukkan username dan password kalian yang telah dibuatkan petugas, lalu klik pengisian kartu. Dan setelah itu klik tambah Mata Kuliah hingga selesai dan klik cetak Kartu Rencana Studi. Arasseo?”
“ye, arasseumnida” sahut para calon mahasiswa
‘uwa! Neomu yeppeo’ batin Jong In.
Sehoon seketika merasa seluruh aliran darahnya terhenti ketika melihat foto yeoja masa lalunya terpampang dengan jelas.
Acara telah selesai, para calon mahasiswa pun bergegas keluar dari auditorium untuk mengisi kartu secara online
“Ahri ah!” Minhoo, kekasih Ahri, memanggilnya dari pintu gerbang. Ia memang berrencana menjemput Ahri sekarang. Ahri berlari, agar Min Hoo tak perlu menunggu lama “oh, ye oppa. Chamkkan man”.
BUKK!!!
Ahri tak sengaja menabrak Jong In, yang menyebabkan tasnya terjatuh. Mereka berdua hendak memungut tas Ahri, namun pada akhirnya mata mereka saling baeradu pandang selama satu menit. Namun dengan cepat Ahri mengambill tasnya dan membungkuk maaf kepada Jong In, dan berlari meninggalkan Jong In.
“ya! Ireona!” Jong In terpana melihat kecantikan yeoja itu, sehingga suara Sehoon tak terdengar sedikitpun ditelinga Jong In “ya! Ireona Jong In ah!” kali ini Sehoon mengeraskan suaranya dan itu berhasil menyadarkan Jong In “aish! Apa yang kau lakukan? Berisik sekali!”
“apa yang ku lakukan? Tentu saja menyadarkanmu! Ck...kajja!”
***
Sebulan kemudian...
Ahri, Jong In dan Sehoon mereka berada di kelas yang sama. Ini tentu sangat menguntungkan bagi Jong In untuk mendekati Ahri.
Jong In POV:
Drrttt...drrrttt

“hoaammm....ck! siapa yang menggangguku malam ini” aku berdecak kesal saat ponselku bergetar menerima pesan dari nomor yang tak ku kenal.
Jong In ah, kau sedang apa?
Apakah kau sedang tidur bersama sahabatmu kekeke...
Balasku:
Niga nuguya?
Balasnya:
Nugu? Aku adalah seorang...penggemarmu
Balasku:
Darimana kau tau nomorku?
Siapa yang memberimu nomorku?
Balasku:
Soal itu, aku tak akan memberitahumu kekeke...mian. ah, sudahlah aku ingin tidur. Mian sudah mengganggu tidurmu, jaljayo.
Author POV:
At campus:
“Jong In ah!” panggil Ahri “ah, y...ye!” Jong In tersenyum grogi “apakah kau ada kesibukan hari ini?”
“oh...eobseo, wae?”
“meok ja!”
Jong In tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, Ahri mengajaknya makan bersama “aku ingin kita makan bersama, shirheo?”
“oh...aniya. Geureom kajja. Keundae eodiga?”
“ di Myeongdong kyoja main restaurant”
“geureom kajja” terlihat kebahagiaan di raut wajah Jong In. Jong In menggandeng tangan Ahri erat. Dan tanpa mereka sadari, seseorang telah mengintai mereka.
Jong In POV:
Entah mengapa aku merasa sangat tidak nyaman disini. Bukan, tapi lebih tepatnya aku merasa ada yang mengintai kami. Aku harus melindungi Ahri, apapun yang terjadi
“Ahri ah...”
“ye?”
“akhir-akhir ini aku melihatmu selalu sendiri. Tidak biasanya kau bersama namja chingumu?” terdapat kesedihan di wajah cantiknya. Aku merasa bersalah “ehm...mian...aku tidak...”
“gwaenchana, aku memang sedang bermasalah dengan namja chinguku”
“ye?”
“aku selalu mengirimkan pesan kepadanya sampai ratusan kali, namun ia tak membalasnya. Aku mencoba menelfonnya namun tak juga ia menjawab. Aku mencarinya disemua tempat, apartemen, nightclub, rumah orang tuanya dan semua tempat yang sering ia kunjungi. Namun semua nihil”
“Ahri ah...”
“terakhir aku menemuinya sejak seminggu yang lalu. Aku menanyakan mengapa tak menjawab telfon dan pesanku dan mengapa ia pergi tanpa aku mengetahuinya. Namun ia bersikap acuh terhadapku...”
“aku tak tahu apa yang harus ku lakukan...”
Mendengar penjelasan Ahri, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku ‘mungkinkah orang itu adalah namja chingunya?’
Aku memegang tangan Ahri untuk menenangkannya “Ahri ah, tenanglah kau...”
Drrrttt...drrrtttt....
Sebuah pesan memasuki ponselku
Jong In ah, kau sedang berada di restaurant Myeongdong bersama seorang yeoja ya?
Apakah yeoja itu menangis? Oh...aigoo jangan memegang tangannya seperti itu, aku cemburu kekeke...
Oh, mian sudah mengganggumu. Aku pergi dulu bye.
Ingat, jangan menyentuh-nyentuh dia, atau akan ku bunuh kalian!!!
Kekeke...
Dadaku bergemuruh, api kemarahan memenuhi sekujur tubuhku. Aku kemudian berniat membalasnya, namun aku urungkan niatku.
“Ahri ah, apakah kau mengenali nomor ini?”
“aniya...wae gaeurae?”
Author POV:
Deuntuman musik nightclub malam itu sangat membosankan bagi Min Hoo. Ia adalah namja tampan yang paling diminati para yeoja penggila sex dan namja homosex di nightclub ini. Sudah puluhan kali para yeoja cantik dan namja menjijikan disini menawarkan ‘sex’ untuk menghiburnya, bahkan ada yang menawarkan ‘bermain’ dengan Cuma-Cuma. Namun semua tawaran itu DITOLAKNYA.
Luhan, namja yang ia tunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang juga
“ck...kau lama ekali, eoh! Apakah mobilmu itu selambat ulat?”
“kekeke...mianhae, ige” Luhan menyodorkan amplop berisi foto-foto. “hanya ini?”
“ye”.
“ck...sedikit sekali. Keundae, gomawo. Ini bayaranmu” Min Hoo menyodorkan amplop berisi nominal sejumlah 5 juta won. Namun Luhan tidak terima “hey, aku sudah bersusah payah mendapatkannya, hanya ini yang kau berikan?”
“itu sangat sepadan dengan kerjamu yang kurang becus!”
“apa kau bilang? Aku kurang becus? Hey aku sudah melakukan semua yang kau perintahkan, kau bilang kurang becus?” emosi Luhan menaik. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak oleh Min Hoo. Luhan menghantam wajah Min Hoo. Mereka terlibat perkelahian. Seluruh pengunjung nightclub ketakutan dan berhamburan keluar. Dan Min Hoo yang tidak ingin dituding sebagai biang keladi memilih kabur dari tempat terkutuk itu. Ia berniat untuk kembali ke apartemennya. Luhan mengejarnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia tahu jika ia hanya membuntuti Min Hoo dari belakang, maka polisi akan mengejarnya. Maka ia memilih jalan alternatif agar dapat mengejar Min Hoo. Ia berhasil menghadang mobil Min Hoo. Dan Min Hoo yang sama sekali tidak menduganya, kaget dan langsung membanting setir untuk menghindari tabrakan dengan mobil Luhan. Namun nahas, Min Hoo sedang tidak dalam nasib baiknya. Ia kecelakaan dan...pergi meninggalkan dunia ini.
“hahaha...aku akan segera mendapatkan yeojamu yang cantik itu. Hahaha...mianhae Choi Min Hoo”.
Luhan mengambil ponselnya dan kembali melacak keberadaan Jong In. Tunggu, darimana ia mendapatkan nomor Jong In?
Flashback:
“ck...benar-benar membosankan” itulah kata yang Jong In ucapkan saat studium general. Luhan yang mendengarnya langsung menoleh kearah Jong In. Hal itu juga dirasakan oleh Luhan, ia benar-benar bosan. Namun rasa bosannya menghilang ketika rektor Lee menunjukkan data kemahasiswaaan Ahri. Luhan juga sebenarnya menyukai Ahri secara diam-diam sejak mereka SMA. Karena itulah Luhan selalu cemburu jika Ahri berdekatan dengan namja lain seperti Min Hoo.
Dan saat Luhan menoleh kembali kearah Jong In, ia melihat ekspresi Jong In yang terpana melihat wajah cantik Ahri terpampang di layar LCD. Lalu ia melihat username yang terpampang di dadanya ‘Kim Jong In’.
‘hmm...dia akan menjadi sainganku!’ batin Luhan.
BUKK...!!!
Suara tas terjatuh, rupanya itu karena Ahri dan Jong In bertabrakan. Itu membuat Luhan menjadi cemburu, terlebih lagi saat mereka hendak memungut tas Ahri, mata mereka beradu pandang, rasa cemburu Luhan makin menaik. Dan tanpa disadari Jong In dan Sehoon, ponsel Jong In terjatuh. Dan timbullah niat licik dari hati Luhan untuk selalu meneror Jong In. Ia mengambilnua dan mencatat nomor Jong In di ponselnya.
Flashback end
‘rupanya mereka diapartemen’ Luhan berpikir keras apa yang harus ia lakukan. Ia tidak ingin yeoja yang selama ini ia dambakan menjadi milik orang lain. Tak lama kemudian seringaian licik dari bibir sexynya muncul.
Ahri POV:
“Ahri ah, saranghaeyo.”
“ye?” aku tidak percaya bahwa baru saja Jong In menyatakan cinta terhadapku. Entah mengapa dalam diriku ada rasa senang saat ia mengatakan ini padaku. ‘Ya, Tuhan, Ahri sadarlah! Kau belum putus dengan Min Hoo oppa’ aku memperingatkan pada diri sendiri.
“Ahri  ku mohon, lupakanlah Min Hoo. Bukalah hatimu untuk namja lain. Min Hoo bukanlah namja yang baik untukmu. Dia pergi begitu saja tanpa memberitahumu, bersikap acuh, dan marah tanpa alasan padamu. Min Hoo tidak mampu membuatmu bahagia tapi aku...aku akan selalu ada disampingmu dan membuatmu bahagia. Aku akan bahagia jika kau bahagia Ahri-ah” aku merasa apa yang dikatakan Jong In benar, aku tidak pernah merasa bahagia saat berpacaran dengan Min Hoo, Min Hoo hanya sering menyakitiku. Ia sering mengajakku untuk melakukan ‘itu’dan aku menolaknya, lalu berujung pada pertengkaran seperti ini. Dia sering sekali membawa seorang yeoja ke apartemennya, tentu itu membuatku merasa sakit. Namun ia selalu marah jika aku bersama namja lain.
“tolong Ahri ah, pikirkanlah dengan baik. Aku akan menunggu jawabanmu. Geureom, aku pulang” saat Jong In hendak pergi, aku menahan tangannya “nado saranghae Jong In-ah” aku mendekatkan wajahku dan mencium bibirnya.
Author POV:
Jong In kaget, ia benar-benar tidak menyangka bahwa ini akan terjadi. Ahri menerima dan menciumnya! Ia melumat-lumat kecil bibir manis yeoja itu, dan rupanya Ahri membalas lumatan-lumatan bibir Jong In. Jong In mencium Ahri dengan penuh kasih sayang, namun setelah itu lumatan-lumatan itu berubah menjadi lumatan penuh nafsu. Ahri mengalungkan tangannya dileher Jong In, agar Jong In menciumnya lebih dalam. Ahri membuka mulutnya dan Jong In memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelajahi rongga mulut Ahri Mereka saling bertukar saliva, seluruh ruangan itu dipenuhi dengan decakan-decakan yang keluar dari mulut mereka. Jong In bosan dengan bibir Ahri, ciumannya beralih ke leher jenjang Ahri dan menjilat-jilat leher Ahri.
‘manis’ pikirnya. Ahri mendesah akibat ulah Jong In itu. Jong In kini kehilangan akal sehatnya. Tangannya menyusup ke dalam baju tidur Ahri. Itu membuat Ahri semakin mendesah “ahh...Jongh...iiinnnhhh...”. Namun Ahri masih dikuasai akal sehatnya sehingga saat Jong In hendak meraba ‘gundukan kembar’nya, ia menghentikannya. Terlihat dengan jelas, kekecewaan di raut wajah Jong In “wae?” “kekeke...Jong In ah, aku hanya ingin melakukan ‘itu’ jika kita sudah menjadi sepasang suami istri, geurae hahaha...”
“hmm...baiklah chagi” dan tanpa disadari Luhan telah menyaksikan adegan itu
Drrrttt...drrrrtttt...
Meski ia telah mengatakan itu kepadamu, kalian tidak akan pernah menikah!
Kau akan mati hari ini Kim Jong In! Kekekke...
Aku telah mempersiapkan peledak, jadi buanglah jauh-jauh impian itu!
‘shit!’
Jong In POV:
‘Shit!’
“waeyo Jong In-ah? Itu ada pesan dari siapa?”
“yeobo kita harus cepat-cepat pergi dari sini. Kajja, sigan eobseo...”
DUAAKKK!!!!!!!
Author POV:
Kepanikan kini tengah melanda Jong In dan Ahri, banyak granat yang tengah meledak di ruangan dimana mereka berpijak. Tidak hanya mereka, bahkan semua orang yang melihat kejadian itu juga panik dan berhamburan keluar. Hanya mereka berdua yang tidak bisa keluar.
Luhan nampak kegirangan dan menyelamatkan Ahri. Jong In yang melihat kedatangan Luhan kini baru mengetahui bahwa sebenarnya yang selama ini menerornya adalah Luhan. Jong In hendak menarik Ahri kembali dari taangan Luhan, namun tak berhasil. Luhan berhasil membawa Ahri dan Jong In tidak bisa menyelamatkan dirinya, ia terjebak.
Seorang petugas keamanan hendak menyelamatkannya, namun sia-sia. Api telah melahap tubuh Jong In. Ia terbakar dan pergi meninggalkan dunia ini.
Ahri berteriak-teriak memanggil Jong In, ia berusaha melepaskan diri dari Luhan namun sia-sia
“Ahri ah sadarlah! Itu sangat berbahaya untukmu”
“aku tidak peduli, aku ingin menyelamatkan Jong In”
“dia telah tiada Ahri ah!”
“ne?” seketika tubuh Ahri melemas dan ia pingsan.
***
Ahri POV:
Pusing. Itulah yang aku rasakan sekarang.
“hh...na eodi e?”
“Ahri ah, kau sudah sadar? Ini kubuatkan minuman untuk mu” Luhan? Mengapa ia disini? Aku dimana? Dan dimanakah Jong In? Bukankah tadi aku bersamanya?
“kau diapartemenku. Ini minumlah”
“oh...gomawo”
“Luhan ah, bukankah tadi aku bersama Jong In? Dimana dia?”
Luhan terdiam sejenak
“dia...dia telah tiada”
Bagai disambar petir, tubuhku terasa sangat sakit mendengarnya “m...mwo...museun mariya?”
“dia telah meninggal akibat kejadian semalam” lalu aku mengingat-ingat apa yang telah terjadi
“andwae...andwae!!! dia tidak mungkin mati Luhan-ah, tidak mungkin!!!” aku meniggalkan Luhan dan pergi kerumah Jong In. Namun diperjalanan aku bertemu dengan orang tua Min Hoo
PLAKK!!!!
“dasar yeoja pembawa sial! Kau harus mati! Harus mati! Hiksss....”
“ada apa?”
“kau bertanya ada apa? Min Hoo meniggal karenamu!!!”
“ye?”
“hey ada apa in...nyonya!!!”
“ah...Luhan ah, sebaiknya kau jauhi saja yeoja sialan ini. Jika tidak, kau juga akan ikut mati seperti Min Hoo’
“tunggu nyonya, apa yang ka....”
“Ahri ah!”
“itu...orang tua Jong In”
“dasar yeoja sialan! Mati saja kau mati saja! Karena kau Jong In meninggal!!!!”
“jadi itu benar? Nyonya-nyonya tolong maafkan aku, tapi aku tidak melakukan apapun yang membuat mereka meninggal...”
“bohong! Kau harus kubuat kau jera akibat pembunuhan terhadap anak kami!”
***
Sehun POV:
Aku berjalan kaki menuju kampus, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa mereka semua tiba-tiba membicarakan Ahri?
“hey apa kalian tahu, mahasiswi Ahri heendak dieksekusi mati”
DEG! ! ! ‘m...mwo...Ahri...dieksekusi?’
“ne, karena dia dituduh sebagai tersangka kematian Jong In dan Min Hoo”
“apakah itu benar?”
“entahhlah. Tapi dari berita yang ku dengar, sebenarnya bukan dia penyebabnya, tapi Luhan”
Aku menghampiri dua yeoja yang sedang asyik membicarakan Ahri itu “mwo? Luhan yang menyebabkan itu?”
“ne, aku mendengarnya seperti itu. Kajja”
“oh...lihatlah, itu Ahri. Gadis yang malang!”
Ku lihat raut wajah Ahri yang malu dan ketakutan “Ahri ah” aku melambaikan tanganku padanya dan menghampirinya
“Ahri ah, kau kenapa?”
“oh...Sehoon ah, na gwaenchana” Ahri tersenyum padaku namun aku tentu tak mempercayainya “kau bohong, kau tidak baik-baik saja. Kajja”
***
“Ahri ah, aku sudah mendengar semuanya”
“aku takut, dan tak tahu mesti bagaimana Sehun ah. Hiks...”
Ku peluk ia dengan erat didadaku, seperti yang pernah ku lakukan dulu padanya “tenanglah Ahri, kau
 
“hoaammm....ck! siapa yang menggangguku malam ini” aku berdecak kesal saat ponselku bergetar menerima pesan dari nomor yang tak ku kenal.
Jong In ah, kau sedang apa?
Apakah kau sedang tidur bersama sahabatmu kekeke...
Balasku:
Niga nuguya?
Balasnya:
Nugu? Aku adalah seorang...penggemarmu
Balas Jong In:
Darimana kau tau nomorku?
Siapa yang memberimu nomorku?
Balasku:
Soal itu, aku tak akan memberitahumu kekeke...mian. ah, sudahlah aku ingin tidur. Mian sudah mengganggu tidurmu, jaljayo.
Author POV:
At campus:
“Jong In ah!” panggil Ahri “ah, y...ye!” Jong In tersenyum grogi “apakah kau ada kesibukan hari ini?”
“oh...eobseo, wae?”
“meok ja!”
Jong In tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, Ahri mengajaknya makan bersama “aku ingin kita makan bersama, shirheo?”
“oh...aniya. Geureom kajja. Keundae eodiga?”
“ di Myeongdong kyoja main restaurant”
“geureom kajja” terlihat kebahagiaan di raut wajah Jong In. Jong In menggandeng tangan Ahri erat. Dan tanpa mereka sadari, seseorang telah mengintai mereka.
Jong In POV:
Entah mengapa aku merasa sangat tidak nyaman disini. Bukan, tapi lebih tepatnya aku merasa ada yang mengintai kami. Aku harus melindungi Ahri, apapun yang terjadi
“Ahri ah...”
“ye?”
“akhir-akhir ini aku melihatmu selalu sendiri. Tidak biasanya kau bersama namja chingumu?” terdapat kesedihan di wajah cantiknya. Aku merasa bersalah “ehm...mian...aku tidak...”
“gwaenchana, aku memang sedang bermasalah dengan namja chinguku”
“ye?”
“aku selalu mengirimkan pesan kepadanya sampai ratusan kali, namun ia tak membalasnya. Aku mencoba menelfonnya namun tak juga ia menjawab. Aku mencarinya disemua tempat, apartemen, nightclub, rumah orang tuanya dan semua tempat yang sering ia kunjungi. Namun semua nihil”
“Ahri ah...”
“terakhir aku menemuinya sejak seminggu yang lalu. Aku menanyakan mengapa tak menjawab telfon dan pesanku dan mengapa ia pergi tanpa aku mengetahuinya. Namun ia bersikap acuh terhadapku...”
“aku tak tahu apa yang harus ku lakukan...”
Mendengar penjelasan Ahri, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku ‘mungkinkah orang itu adalah namja chingunya?’
Aku memegang tangan Ahri untuk menenangkannya “Ahri ah, tenanglah kau...”
Drrrttt...drrrtttt....
Sebuah pesan memasuki ponselku
Jong In ah, kau sedang berada di restaurant Myeongdong bersama seorang yeoja ya?
Apakah yeoja itu menangis? Oh...aigoo jangan memegang tangannya seperti itu, aku cemburu kekeke...
Oh, mian sudah mengganggumu. Aku pergi dulu bye.
Ingat, jangan menyentuh-nyentuh dia, atau akan ku bunuh kalian!!!
Kekeke...
Dadaku bergemuruh, api kemarahan memenuhi sekujur tubuhku. Aku kemudian berniat membalasnya, namun aku urungkan niatku.
“Ahri ah, apakah kau mengenali nomor ini?”
“aniya...wae gaeurae?”
Author POV:
Deuntuman musik nightclub malam itu sangat membosankan bagi Min Hoo. Ia adalah namja tampan yang paling diminati para yeoja penggila sex dan namja homosex di nightclub ini. Sudah puluhan kali para yeoja cantik dan namja menjijikan disini menawarkan ‘sex’ untuk menghiburnya, bahkan ada yang menawarkan ‘bermain’ dengan Cuma-Cuma. Namun semua tawaran itu DITOLAKNYA.
Luhan, namja yang ia tunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang juga
“ck...kau lama ekali, eoh! Apakah mobilmu itu selambat ulat?”
“kekeke...mianhae, ige” Luhan menyodorkan amplop berisi foto-foto. “hanya ini?”
“ye”.
“ck...sedikit sekali. Keundae, gomawo. Ini bayaranmu” Min Hoo menyodorkan amplop berisi nominal sejumlah 5 juta won. Namun Luhan tidak terima “hey, aku sudah bersusah payah mendapatkannya, hanya ini yang kau berikan?”
“itu sangat sepadan dengan kerjamu yang kurang becus!”
“apa kau bilang? Aku kurang becus? Hey aku sudah melakukan semua yang kau perintahkan, kau bilang kurang becus?” emosi Luhan menaik. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak oleh Min Hoo. Luhan menghantam wajah Min Hoo. Mereka terlibat perkelahian. Seluruh pengunjung nightclub ketakutan dan berhamburan keluar. Dan Min Hoo yang tidak ingin dituding sebagai biang keladi memilih kabur dari tempat terkutuk itu. Ia berniat untuk kembali ke apartemennya. Luhan mengejarnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia tahu jika ia hanya membuntuti Min Hoo dari belakang, maka polisi akan mengejarnya. Maka ia memilih jalan alternatif agar dapat mengejar Min Hoo. Ia berhasil menghadang mobil Min Hoo. Dan Min Hoo yang sama sekali tidak menduganya, kaget dan langsung membanting setir untuk menghindari tabrakan dengan mobil Luhan. Namun nahas, Min Hoo sedang tidak dalam nasib baiknya. Ia kecelakaan dan...pergi meninggalkan dunia ini.
“hahaha...aku akan segera mendapatkan yeojamu yang cantik itu. Hahaha...mianhae Choi Min Hoo”.
Luhan mengambil ponselnya dan kembali melacak keberadaan Jong In. Tunggu, darimana ia mendapatkan nomor Jong In?
Flashback:
“ck...benar-benar membosankan” itulah kata yang Jong In ucapkan saat studium general. Luhan yang mendengarnya langsung menoleh kearah Jong In. Hal itu juga dirasakan oleh Luhan, ia benar-benar bosan. Namun rasa bosannya menghilang ketika rektor Lee menunjukkan data kemahasiswaaan Ahri. Luhan juga sebenarnya menyukai Ahri secara diam-diam sejak mereka SMA. Karena itulah Luhan selalu cemburu jika Ahri berdekatan dengan namja lain seperti Min Hoo.
Dan saat Luhan menoleh kembali kearah Jong In, ia melihat ekspresi Jong In yang terpana melihat wajah cantik Ahri terpampang di layar LCD. Lalu ia melihat username yang terpampang di dadanya ‘Kim Jong In’.
‘hmm...dia akan menjadi sainganku!’ batin Luhan.
BUKK...!!!
Suara tas terjatuh, rupanya itu karena Ahri dan Jong In bertabrakan. Itu membuat Luhan menjadi cemburu, terlebih lagi saat mereka hendak memungut tas Ahri, mata mereka beradu pandang, rasa cemburu Luhan makin menaik. Dan tanpa disadari Jong In dan Sehoon, ponsel Jong In terjatuh. Dan timbullah niat licik dari hati Luhan untuk selalu meneror Jong In. Ia mengambilnua dan mencatat nomor Jong In di ponselnya.
Flashback end
‘rupanya mereka diapartemen’ Luhan berpikir keras apa yang harus ia lakukan. Ia tidak ingin yeoja yang selama ini ia dambakan menjadi milik orang lain. Tak lama kemudian seringaian licik dari bibir sexynya muncul.
Ahri POV:
“Ahri ah, saranghaeyo.”
“ye?” aku tidak percaya bahwa baru saja Jong In menyatakan cinta terhadapku. Entah mengapa dalam diriku ada rasa senang saat ia mengatakan ini padaku. ‘Ya, Tuhan, Ahri sadarlah! Kau belum putus dengan Min Hoo oppa’ aku memperingatkan pada diri sendiri.
“Ahri  ku mohon, lupakanlah Min Hoo. Bukalah hatimu untuk namja lain. Min Hoo bukanlah namja yang baik untukmu. Dia pergi begitu saja tanpa memberitahumu, bersikap acuh, dan marah tanpa alasan padamu. Min Hoo tidak mampu membuatmu bahagia tapi aku...aku akan selalu ada disampingmu dan membuatmu bahagia. Aku akan bahagia jika kau bahagia Ahri-ah” aku merasa apa yang dikatakan Jong In benar, aku tidak pernah merasa bahagia saat berpacaran dengan Min Hoo, Min Hoo hanya sering menyakitiku. Ia sering mengajakku untuk melakukan ‘itu’dan aku menolaknya, lalu berujung pada pertengkaran seperti ini. Dia sering sekali membawa seorang yeoja ke apartemennya, tentu itu membuatku merasa sakit. Namun ia selalu marah jika aku bersama namja lain.
“tolong Ahri ah, pikirkanlah dengan baik. Aku akan menunggu jawabanmu. Geureom, aku pulang” saat Jong In hendak pergi, aku menahan tangannya “nado saranghae Jong In-ah” aku mendekatkan wajahku dan mencium bibirnya.
Author POV:
Jong In kaget, ia benar-benar tidak menyangka bahwa ini akan terjadi. Ahri menerima dan menciumnya! Ia melumat-lumat kecil bibir manis yeoja itu, dan rupanya Ahri membalas lumatan-lumatan bibir Jong In. Jong In mencium Ahri dengan penuh kasih sayang, namun setelah itu lumatan-lumatan itu berubah menjadi lumatan penuh nafsu. Ahri mengalungkan tangannya dileher Jong In, agar Jong In menciumnya lebih dalam. Ahri membuka mulutnya dan Jong In memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelajahi rongga mulut Ahri Mereka saling bertukar saliva, seluruh ruangan itu dipenuhi dengan decakan-decakan yang keluar dari mulut mereka. Jong In bosan dengan bibir Ahri, ciumannya beralih ke leher jenjang Ahri dan menjilat-jilat leher Ahri.
‘manis’ pikirnya. Ahri mendesah akibat ulah Jong In itu. Jong In kini kehilangan akal sehatnya. Tangannya menyusup ke dalam baju tidur Ahri. Itu membuat Ahri semakin mendesah “ahh...Jongh...iiinnnhhh...”. Namun Ahri masih dikuasai akal sehatnya sehingga saat Jong In hendak meraba ‘gundukan kembar’nya, ia menghentikannya. Terlihat dengan jelas, kekecewaan di raut wajah Jong In “wae?” “kekeke...Jong In ah, aku hanya ingin melakukan ‘itu’ jika kita sudah menjadi sepasang suami istri, geurae hahaha...”
“hmm...baiklah chagi” dan tanpa disadari Luhan telah menyaksikan adegan itu
Drrrttt...drrrrtttt...
Meski ia telah mengatakan itu kepadamu, kalian tidak akan pernah menikah!
Kau akan mati hari ini Kim Jong In! Kekekke...
Aku telah mempersiapkan peledak, jadi buanglah jauh-jauh impian itu!
‘shit!’
Jong In POV:
‘Shit!’
“waeyo Jong In-ah? Itu ada pesan dari siapa?”
“yeobo kita harus cepat-cepat pergi dari sini. Kajja, sigan eobseo...”
DUAAKKK!!!!!!!
Author POV:
Kepanikan kini tengah melandaku dan Ahri, banyak granat yang tengah meledak di ruangan dimana kami tinggal. Tidak hanya mereka, bahkan semua orang yang melihat kejadian itu juga panik dan berhamburan keluar. Hanya mereka berdua yang tidak bisa keluar.
Luhan nampak kegirangan dan menyelamatkan Ahri. Jong In yang melihat kedatangan Luhan kini baru mengetahui bahwa sebenarnya yang selama ini menerornya adalah Luhan. Jong In hendak menarik Ahri kembali dari taangan Luhan, namun tak berhasil. Luhan berhasil membawa Ahri dan Jong In tidak bisa menyelamatkan dirinya, ia terjebak.
Seorang petugas keamanan hendak menyelamatkannya, namun sia-sia. Api telah melahap tubuh Jong In. Ia terbakar dan pergi meninggalkan dunia ini.

tak perlu takut. Aku akan selalu ada disisimu”
Author POV:
Tiba-tiba Ahri merasakan pusing dikepalanya. Ia teringat akan seseorang yang pernah memeluknya seperti ini “aah..” Sehun melepaskan pelukannya dan mendapati Ahri tengah pusing memegang kepalanya “Ahri ah, neo gwaenchana?”
“Sehun ah...aku...”
“oh rupanya kau disini yeobo, kajja” Luhan menarik paksa tangan Ahri hingga ia meringis kesakitan. Lalu ia membawa pergi yeoja itu “ya!...”. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan tajamnya seolah mengatakan ‘awas kau!’.
***
Luhan merebahkan tubuh Ahri diatas ranjangnya “Ahri ah, kau kenapa? Kau terlihat sangat pucat, apa yang namja itu lakukan padamu, eoh! Malhae, aku akan menghukumnya...”
“andwae Luhan ah, dia tak melakukan apapun. Hanya saja, mungkin aku kelelahan. Aku ingin tidur Luhan ah”
“baiklah, kau tidurlah disini. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu”
“gomawo”
15 menit kemudian...
“Ahri ah, ireona! Kau mandilah terlebih dahulu”
“ah...ne Luhan ah”
Rasa pusing kembali menghadang, dan bersamaan dengan itu bayang-bayang masa lalu Ahri pun menghampirinya. Bayangan ketika ia bersama Sehun disebuah taman, bayangan ketika Sehun memberinya sebuah bunga cantik, bayangan kettika ia, sekeluarganya dan Sehun mengalami kecelakaan.
Lalu ia pingsan.
***
Sehun menatap sebuah foto kenangannya dengan Ahri. Ahri sebenarnya adalah yeoja chingunya, hanya saja kecelakaan memisahkan mereka.
Flashback:
“Eomma, appa, apakah aku boleh mengajak Sehun oppa?”
“cantikku...tentu saja boleh” eomma mengacak-acak rambut Ahri “kajja”
16 menit kemudian
Sebuah mobil ferrary melaju dengan kecepatan tinggi, menabrak mobil mereka dan menyebabkan dua orang meninggal dan dua orang luka-luka. Ternyata sang pengendara mobil itu tengah mabuk.
Dan beberapa hari kemudian setelah kejadian, Sehun menanyakan dimana Ahri “dia tengah mengalami amnesia. Dia tidak dirawat disini. Dan kabarnya sebentar lagi ada seseorang yang akan mengadopsinya”
Itu kata dokter
Flashback end
“aku akan mengembalikan dirimu dan ingatanmu Ahri ah”
***
“yeobo, kau sudah se...” Luhan tak sempat meneruskan kalimatnya. Ia terperangah melihat tubuh Ahri yang hanya tertutup sebagian. Ia bahkan merasa sulit menelan salivanya sendiri. Dan seketika nafsu Luhan muncul. Namun ia berusaha untuk menahannya ‘oh...sexy girl. Aku akan segera menikmati tubuh indahnya’
“Luhan ah, aku merasa sangat bosan. Aku ingin jalan-jalan” Luhan tak menjawab “Luhan ah...”
“ah...oh...ye...baiklah. malam ini?”
“boleh”
“geurae”
Luhan memutar otaknya, ia harus mengajaknya kemana malam-malam? Lalu ide kotornya muncul
“yeobo, berhubung kau ingin jalan-jalan, aku ingin pergi membeli baju untukmu sebentar”
“Luhan ah...”
“annyeong”
***
Luhan menyodorkan sebuah gaun mini berwarna putih, dan sepotong rok mini berwarna senada. Gaun itu hanya menutup sebagian tubuhnya saja, dan mengekspos bagian atas buah dadanya, namun itupun masih menampakkan sedikit belahan dadanya. Sangat cantik dan sexy. Luhan tak sabar, ia ingin segera jam 8 malam agar ia bisa melihat tubuh cantik dan sexy milik Ahri
“wah...sangat cantik! Gomawo Luhan ah”
“ne” ‘akan lebih cantik jika kau memakainya yeobo kekeke... dan aku pasti bisa memilikimu seutuhnya seumur hidupku hahaha...’
Arloji menukkan pukul 8 malam
“yeobo apakah kau sudah siap?”
“ne Luhan ah” tak lama kemudian Ahri keluar dari kamar dan menggunakan gaun yang dibelikan Luhan. Ahri sexy bukan main!
***
Ahri POV:
“Luhan ah, kenapa kau mengajakku kemari?”
“yeobo ku yang cantik, kau bilang kau pusing. Ini adalah tempat yang tepat untuk menghilangkan pusingmu itu. Ini untukmu” aku meneguk dua botol maekchu rasa orange, ini maekchu kesukaanku. Luhan disampingku sepertinya sudah benar-benar mabuk. Lalu ia melakukan hal yang tak ku duga sebelumnya “saranghae yeobo”
“hmpp...” Luhan menindih tubuhku dan menciumku. Aku merasa sangat tidak nyaman, ku singkirkan tubuhnya dari tubuhku. Aku yang masih tersadar berlari keluar dan Luhan mengejarku. Ia kembali menangkap tubuhku
“Luhan ah...lepaskan...”
“tidak, kau milikku yeobo” tangan brengseknya menggerayangi tubuhku, dan tak lupa bibir brengseknya mencium, menjilat dan menggigit leherku “hmmhhh...Lu...haanhhh...lepashh...khaannhhh...”
BUKK!!!!
Tiba-tiba aku melihat seorang namja yang sangat ku kenal, Sehun, meninju Luhan hingga ia berdarah
“Sehun ah!”
“Ahri ah, nagarago!”
“keundae...”
“palli naga! Palli!” lalu aku pergi meninggalkan mereka
Author POV:
“apa yang hendak kau lakukan pada Ahri, eoh!”
“aku ingin memilikinya seutuhnya, wae? Kau tidak terima ya, hahaha....”
“jadi alasan itulah yang membuatmu membunuh Min Hoo dan Jong In, eoh? Kau yang membunuh mereka, eoh?”
“hahaha...geurae, aku yang membunuh dua bajingan itu hahaha...pikkyeo, aku akan membuat hamil yeoja cantik itu. Ahri ah....tunggu aku!!!!”
“Ahri ah, palli! Palli!”
Sebuah sirine mobil polisi terdengar tak jauh dari tempat kejadian “apa-apaan ini, kau melapor pada polisi, eoh?”
“saudara Luhan! Ada akan kami tangkap karena kasus pembunuhan tuan Min Hoo dan Jong In, juga kasus percobaan pemerkosaan terhadap nona Ahri. Ayo!” dua orang polisi mendekati Luhan dan mengunci kedua tangannya dengan besi “mwo? Kalian akan menangkapku? Hahahaha....kalian bahkan tidak punya bukti apapun!”
“kami ada bukti. Kaulah yang barusan mengakuinya sendiri” lalu Sehun mengeluarkan alat kecil berwarna hitam yang dikalungkan di lehernya “haaaahh!!!! Sialan kau Se...”
BRAKK!!!!
Sebuah bus mini menabrak tubuh mungil Ahri. Tubuhnya terpental, gaunnya bersimbah darah. Sehun yang melihatnya tak kuasa menahan air matanya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan “tuan oh, kau uruslah yeoja itu. Kami akan mengurus namja ini. Kajja” sang polisi membekap mulut Luhan yang terus berteriak, dan membawanya secara paksa ke kantor polisi.
Sementara Sehun berlari dan membawa tubuh Ahri ke rumah sakit.
***
Seorang dokter keluar dari ruang operasinya dengan wajah sedih “bagaimana dengan keadaannya dok?”
“mianhae tuan, kami telah berusaha menyelamatkan nona Ahri. Tapi, kami tak bisa menyelamatkan nyawanya”
Sehun merasa seluruh tulangnya telah remuk, ia tak dapat menegakkan tubuhnya dengan benar “jinjjayo? Apakah yang kau katakan itu benar, eoh?”
“lalu apa gunanya kau...”
“dokter, pasien kembali hidup” seorang perawat dengan wajah gembiranya keluar dari ruang operasi “ye? Mengapa itu bisa terjadi?”
“entahlah. Oh tuan, sebenarnya dia sebelum kecelakaan dia tengah mengalami amnesia”
“amnesia?”
“ne”
***
“Se...huuunnn...ah”
“ah...Ahri, kau sudah sadar?”
“n...ne...keu...n...dae...aku...di...dima...na?”
“kau ada dirumah sakit yeobo”
“eoh...a...aku...ke...kena...pa?”
Sehun tak menjawab pertanyaannya, malah menceritakan seluruh kejadian yang telah dialami Ahri, mulai dari saat pertama mereka bertemu, berpacaran, saat mereka hendak bertamasya dengan orang tua Ahri, hingga hari ini.
“y...ye? eo...mm...a...da...n...ap...pa...pe...r...gi?” terdengar isak tangis dari bibir Ahri, dan itu sangaat jelas ditelinga Sehun
“keundae, tenanglah. Kau tak usah bersedih, karena aku masih ada disini. Aku akan selalu menemanimu Ahri ah. Saranghae”
“go...ma...wo...se...hu...n...ah...na...do...sa...ra...ng...hae. mi...an...ha...e...yo...te...lah...me...m...bu...at...mu...la...ma...me...nung...gu”
“gwaenchana”
END

kyahahahaa...akhirnya end juga ini ffnya :D
mian ini banyak typonya :(
mian juga kalo masih gaje ceritanya, maklumlah baru latian bikin ff jadi ya gini. ok tinggalkan komen ya ;)